Surabaya, Santa Clara– Pagi ini, 21 Apri 2026, suasana TK Katolik Santa Clara terasa berbeda. Meja-meja kecil telah tertata rapi, kuas dan cat akrilik siap digunakan, dan di hadapan setiap anak, sebuah tas spunbond putih menanti untuk “dihidupkan” dengan warna.
“Gambarnya seperti Suster Selly”, seru Max murid A3 spontan ketika melihat tas ada di meja gambarnya.
“Oh ya, ada kacamata juga” sahut Rafania.

Satu per satu anak mulai menggoreskan kuasnya. Ada yang penuh percaya diri, ada yang masih ragu-ragu, ada yang diam terpaku, namun semuanya tenggelam dalam dunianya masing-masing.
Aku mau warna gold, pinta Abigail, murid TK B1.
Aku mau yang silver untuk salibnya, kata Mikhael sahabat yang duduk di sampingnya.
Tidak ada warna yang salah. Tidak ada karya yang sama. Setiap tas menjadi cerita—tentang imajinasi, keberanian mencoba, dan sukacita belajar.
Hari itu, anak-anak tidak sekadar mengikuti lomba mewarnai. Mereka sedang belajar… dengan bekerja.
Dalam semangat Montessori, anak diajak mengalami bahwa belajar bukan hanya duduk dan mendengar, tetapi

berkarya, menyentuh, mencoba, dan menciptakan sesuatu yang nyata. Tas yang mereka warnai bukan sekadar media lomba. Tas itu akan mereka bawa pulang di akhir tahun ajaran, berisi buku dan hasil belajar mereka—menjadi simbol perjalanan kecil yang penuh makna.
Lebih dari itu, tas tersebut bergambar Beata Maria Ines Teresa—seorang perempuan sederhana dengan semangat besar. Melalui kegiatan ini, anak-anak diperkenalkan pada nilai misioner: semangat untuk memberi, melayani, dan membawa kebaikan bagi sesama, dengan cara mereka yang sederhana.
Momen ini menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Raden Ajeng Kartini. Dua sosok perempuan hebat, dari latar yang berbeda, namun dengan satu semangat yang sama: membawa terang bagi dunia. Nilai itulah yang perlahan ditanamkan—bahwa setiap anak, sekecil apa pun, dapat menjadi pembawa terang.

Di sudut ruangan, senyum-senyum kecil bermekaran. Tangan-tangan mungil yang penuh warna, mata yang berbinar bangga melihat hasil karyanya sendiri. Mungkin bagi orang dewasa ini hanyalah sebuah lomba. Namun bagi anak-anak, ini adalah pengalaman yang akan mereka kenang: saat mereka diberi ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.
Dan bagi guru, inilah momen melihat bahwa anak-anak mereka tidak hanya belajar menjadi pintar, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang berani, kreatif, dan penuh sukacita.
Seperti motto kami, Lux est Vita — terang adalah kehidupan.
Dan hari itu, terang itu tampak… dalam setiap warna yang mereka goreskan. (Sr Marselina Siu, MC)
